Menurut psikolog anak dari Tiga Generasi Mayang Gita Mardian, MPSi, Psikolog, perlu diingat bahwa banyak hal yang bisa membentuk perilaku anak. Pertama yakni temperamen si anak yang diwariskan atau dengan kata lain, sudah 'bawaan' sejak lahir.
"Temperamen itu yang membentuk kita jadi kayak sekarang, nggak bisa diubah, tapi bisa disesuaikan sehingga kita bisa beradaptasi," kata Mayang saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (21/10/2016).
Kemudian, lingkungan juga berpengaruh pada perilaku anak. Terutama keluarga termasuk di dalamnya bagaimana pengasuhan orang tua. Disebutkan Mayang, proses pendisiplinan anak, penanaman moral pada orang yang lebih tua, sikap menghormati dan menyayangi termasuk pada mereka yang lebih muda, juga berpengaruh pada perilaku anak.
Dengan kata lain, apa pengajaran atau yang dilakukan orang tua pastinya akan dicontoh oleh anak. Mayang mengatakan, bisa saja si anak memiliki temperamen yang easy di mana ia mudah bergaul dengan orang lain dan beradaptasi. Sehingga, ia bisa menganggap gurunya adalah teman.
Baca juga: Saat Anak Adukan Apa yang Dialami di Sekolah, Begini Baiknya Ortu Bersikap
"Tapi, karena tidak diajari disiplin dan nilai moral yang tepat, anak bisa jadi nggak tahu arahnya gimana dia harus respect sama orang yang lebih tua," tutur Mayang.
Atau, perlu juga ditilik bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh guru ketika menasihati sang murid. Pada guru yang terlalu permisif dan cenderung menghindar dari konflik, itu bisa membuat si anak merasa apa yang ia lakukan baik-baik saja.
"Padahal dalam positif disiplin kita harus men-setting rules, harus tegas. Tapi tidak memakai kekerasan. Kalau di kelas misalnya, anak bertingkah ya langsung ditegur, katakan bahwa di kelas si guru ada aturan yang mesti dipatuhi," tutur Mayang.
Terkait cara anak dalam menyelesaikan masalah, beberapa waktu lalu psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psikolog mengatakan meski tidak selalu berkaitan, pola asuh orang tua dan lingkungan juga turut berperan. Pola asuh yang cenderung menggunakan kekerasan saat menegur anak atau yang terlalu otoriter juga bisa menjadi contoh bagi anak.
"Kemudian anak yang bergaul dengan teman yang memang cenderung suka berlaku kasar lambat laun akan terpengaruh," kata wanita yang akrab disapa Nina ini.
Baca juga: Kekerasan Mental pada Anak-anak Bahayanya Seperti Kekerasan Fisik
(rdn/up)
0 Response to "Penyebab Anak Justru Lebih 'Galak' Saat Dinasihati Orang Tua Atau Gurunya"
Posting Komentar