Terkait hal ini, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi mengatakan situasi seperti itu bisa timbul karena keresahan ibu yang takut sang anak kalah. Kemudian, si ibu tidak percaya dengan kemampuan sang anak.
"Ibu kan punya kecenderungan meng-handle semua hal biar oke. Nah, dia lupa kalau anak punya kemampuan. Akhirnya dia mau semuanya perfect, akhirnya dia yang melakukan dan itu kadang-kadang secara nggak sadar dilakukan ibu," tutur Ratih saat berbincang dengan detikHealth.
Jika terbiasa diperlakukan seperti itu, anak bisa selalu butuh bantuan orang tua untuk menyelesaikan apa yang dia hadapi. Sehingga, diharapkan orang tua bisa selalu memberi kesempatan anak untuk melakukan sendiri apa yang mereka lakukan. Asal, lanjut Ratih, orang tua memberi tahu lebih dulu apa konsekuensi dari hal-hal yang dilakukan.
Dengan begitu, anak tahu ia akan memilih sesuatu yang risikonya paling kecil. Menurut Ratih, pada prinsipnya anak mengerti soal kompetisi. Meski, perbedaan usia juga menentukan pemahaman pada masing-masing anak.
Namun, makna kompetisi yang dimiliki anak juga tergantung dari bagaimana orang tua menyikapi predikat pemenang. Sebab, menurut Ratih pribadi, menang bukan soal mendapat piala tetapi ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri dalam menyelesaikan suatu lomba.
Baca juga: Psikolog: Membanding-bandingkan Anak dengan Orang Lain Termasuk Bullying
"Misalnya lomba berenang. Dia capek, dia nggak tahan, tapi terus maju ke garis finish. Ibaratnya anak ini yang berhasil memenangkan perlombaan dengan dirinya. Musuh terbesar siapa sih, bukan orang lain tapi diri kita sendiri," tambah pemilik akun twitter @ratihyepe ini.
Sebenarnya, lomba memunculkan jiwa kompetisi pada anak dan itu penting. Sebab, dalam hidup ini seseorang harus bisa berkompetisi. Jika tidak, anak akan pasrah dengan apa yang ia terima dan tidak memiliki niat memperbaiki diri. Sedangkan, ketika anak memiliki jiwa kompetisi, dia bisa memacu dirinya.
Sehingga, ketika anak ikut lomba, menurut Ratih yang dipacu bukanlah tujuan mendapat piala tetapi bagaimana anak bisa menyelesaikan pertarungannya. Ibu satu anak ini mencontohkan, ketika menyelesaikan ulangan di sekolah, yang dituju adalah bagaimana anak bisa menyelesaikan ujian dan nilai yang didapat adalah bonus.
Ketika orang tua terlalu ikut campur dalam lomba yang diikuti anak, menurut Ratih hal ini bisa saja terjadi karena ada ambisi dari orang tua yang dulu tidak bisa mengikuti lomba seperti itu. Atau, ambisi orang tua untuk menjadikan anak juara.
"Kalau tujuannya menjadikan anak juara, nanti jadinya anak melihat kompetisi itu harus menang. Padahal sebenarnya kompetisi itu adalah dia bisa mulai dan menyelesaikan kompetisi itu dengan baik. Menang, juara itu kan bonus. Tapi selama dia melakukan proses itu dengan baik, dia udah juara lho, mengalahkan dirinya sendiri," papar Ratih.
Baca juga: Meski Tubuh Lumpuh Separuh, Bocah Ini Sukses Juarai Kontes Kecantikan
(rdn/vit)
0 Response to "Ketika Orang Tua Jadi 'Lebih Sibuk' Saat Anaknya Ikut Lomba"
Posting Komentar