Anak Kelas 1 SD Pergi-Pulang Sekolah Naik Angkutan Umum Sendiri, Ya atau Tidak?

Jakarta, Dalam keseharian, pernahkah Anda melihat anak yang terbilang masih kecil dan duduk di bangku kelas 1 atau 2 SD, tapi sudah terbiasa naik angkutan umum? Ya, sebut saja angkutan kota (angkot).

Salah satu pembaca detikHealth, Reva (29), sehari-hari sang anak yang duduk di kelas 1 SD selalu naik angkot. Reva mengantarkan sang anak sampai naik ke angkot, setelah itu anak melaju sendiri ke sekolah.

"Terus nanti pas pulang saya sudah pesan sebelumnya ke satpam sekolah untuk nyeberangin anak saya sama sekalian mastiin anak saya sudah naik angkot," kata Reva.

Lain halnya dengan ibu dua anak, Mala. Kedua putranya yang duduk di kelas 1 dan 2 SD tak ia bolehkan naik angkot atau sepeda ke sekolah. Demi alasan keamanan, Mala lebih memilih menggunakan abonemen ojek untuk mengantar jemput kedua anaknya yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama.

Nah, terkait anak kelas 1 sampai 3 SD yang naik angkot ke sekolah, psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo MPsi, Psikolog mengatakan jika anak masih duduk di bangku kelas 1 sampai 3 SD, sebaiknya ada orang dewasa yang menemani saat naik transportasi umum.

Atau paling tidak, anak bisa menggunakan jasa ojek langganan atau mobil jemputan misalnya. Kemudian, bisa diakali juga jika anak berangkat bersama dengan orang tuanya yang bekerja.

"Tergantung jaraknya juga. Kalau dekat misalnya 3 sampai 5 km, terus naik angkot nggak apa-apa ya. Nah, kalau anak kelas 1 sampai 3, itu kan usia mereka masih di bawah 9 sampai 10 tahun, biasanya kemampuan mereka mengenal situasi, mengenal lingkungan masih terbatas," tutur Anas saat berbincang dengan detikHealth.

Selain itu, wanita yang juga praktikdi Petak Pintar, Mampang ini mengingatkan orang tua mesti melihat juga konteks area tempat tinggal. Jika daerahnya cukup bersahabat, mungkin membiarkan anak pergi-pulang sekolah menggunakan transportasi umum tak terlalu berbahaya.

Baca juga: Begini Dampaknya Jika Anak Belum Siap Tapi Dipaksa Sekolah

Sebaliknya, jika area tempat tinggal berada di tengah kota, menurut Anas bisa menjadi hal yang riskan ketika membiarkan anak pergi pulang sekolah menggunakan angkutan umum. Namun, Anas mengingatkan hal ini bisa diterapkan dalam situasi ideal.

"Artinya, tiap keluarga kan kondisinya berbeda. Jadi anjuran seperti ini jangan dianggap harga mati, perlu dilihat juga kondisi keluarganya kayak gimana. Yang penting, utamakan keselamatan anak," tutur Anas.

Jika jarak sekolah dan rumah cukup dekat, tak ada salahnya Ayah dan Ibu membiasakan si kecil berjalan kaki. Sebab, studi yang dilakukan University of Buffalo, New York di tahun 2012 menunjukkan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dapat memberikan efek seperti berolahraga yang dapat membantu anak mempersiapkan diri dari tekanan atau beban dari kehidupan sekolah.

Peneliti menambahkan, pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dapat meningkatkan aliran darah ke otak yang membuat anak lebih waspada. Saraf pada otak anak juga lebih aktif dan siap menerima tekanan berupa pelajaran maupun ujian di sekolah.

Baca juga: Semangat Belajar Anak Bitobe, Rajin Berangkat Sekolah Meski Jarang Mandi(rdn/vit)

0 Response to "Anak Kelas 1 SD Pergi-Pulang Sekolah Naik Angkutan Umum Sendiri, Ya atau Tidak?"

Posting Komentar